Fakta Lemahnya Presiden Kita

apa yang terlintas dalam pikiran anda jika mendengar/membaca deskripsi sebagai berikut:

sosoknya gagah, berdiri tegap, langkah mantap.
dia seorang purnawirawan, seorang ex-jenderal.
dia adalah lulusan terbaik akademi militer.
dia adalah seorang yang santun, murah senyum, mudah terenyuh.
dia mempunyai darah seni yang kental sehingga mampu menelurkan album rekaman berisikan lagu2 karangannya.

gmana?
apakah anda berharap banyak dengan sosok tersebut?
apakah anda menggantungkan sekian banyak harapan bahwa sosok tersebut mampu membawa Indonesia ke tingkat yang lebih baik?

adakah ia yang ada dalam benak anda adalah sosok yang nyata?
nyatakah dia?

tidak!
apa yang anda dengar/baca kemudian anda bayangkan adalah hanya bayangan anda semata. itu hanyalah angan2 bayang2 semu. dia tidak nyata. dia adalah ilusi.

sosok nyata yang ada adalah sosok yang lemah. sosok kemayu. sosok sombong. sosok gempal yang lambat bertindak. sosok yang ragu2 dalam bertindak. panjang pikiran hingga akhirnya tertidur.

dialah presiden yang lemah.
presiden yang terlalu banyak berucap janji tiada pernah ditepati.
presiden yang ahli bertingkah, berharap menjadi artis di layar perak.

adalah dia yang selalu bergaya mempesona dan memukau dalam setiap kesempatan. tindak tanduk yang selalu terukur dan sesuai dengan etika. namun kosong dalam realita.
adalah dia yang menitikkan air mata di depan pengungsi dan petani. tetapi tertawa lebar ketika diundang resepsi koruptor.
adalah dia yang berkata lantang memberantas korupsi tetapi lemah dalam penerapan.
adalah dia yang tegas manakala rapat, tetapi lemas manakala bertindak

dialah presiden yang lemah.


ane menghaturkan permintaan maaf jika ada kata-kata atau tulisan yang ane buat membuat sebagaian pembaca merasa tersinggung atau ane dianggap menista atau apalah, apa yang ane tulis adalah murni dari pendapat ane terkait masalah yang ane lihat, baca dan dengar, sekali lagi maaf.


Quote:
SBY DIPERMALUKAN BAMBANG WIJAYANTO

Sangat tepat sikap yang diambil Bambang Wijayanto (BW) ketika menolak tawaran SBY untuk menjadi Ketua Komisi Kejaksaan. Sikap ini membuktikan bahwa BW tidak “kemaruk” kekuasaan, apalagi setelah dirinya dikalahkan kalangan Parpol untuk tidak menjadi pimpinan KPK.

Rupanya banyak yang takut terhadap BW jika sampai jadi pimpinan KPK. Karena itu SBY menggunakan jurus politiknya “jawanya” yaitu ingan “mangku”agar BW diam, tidak kritis, penurut dan terlena dengan kursi yang diberikannya.

Jurus SBY dihadapan BW kali ini terpental dan terbaca motif politiknya SBY justru dipermalukan BW ketika tawarannya ditolak.

Penolakan itulah yang sebelumnya tidak dibayangkan. Dikira semua orang akan diam dan senang diberi kekuasaan, seperti yang terjadi pada para politisi Indonesia.

BW mestinya paling tepat tempati posisi Jaksa Agung, bukan Basri Arief. Untuk mengurangi pesimisme publik, SBY mengeluarkan kebijakan setengah hati dengan memberi posisi yang tidak strategis kepada BW di Kejaksaan sebagai Ketua Komisi Kejaksaan.

Kenapa SBY bersikap setengah hati? karena memang watak aslinya yang sangat hati-hati dan tidak mau memberi ruang pada orang sekelas BW untuk menahkodai penegakan hukum di negeri ini.

Jika BW jadi Ketua KPK dan Jaksa Agung banyak yang kuatir karena tidak bisa dikendalikan. Jangan-jangan borok-borok yang tersembunyi dan disembunyikan seperti di kasus Bank Century, Mafia hukum dan pajak, rekening gendut perwira Polri serta lainnnya jadi terbongkar. Mendingan cari aman secara berjamah.

Untuk Bang BW,maju terus dalam mengkritisi penegakan hukum di Indonesia, anda “menang” dimata rakyat, tetapi “dikalahkan” oleh para politisi dan kaum penguasa.

0 komentar:

Posting Komentar